Inilah kumpulan refleksi pemikiran Prof. Imam Suprayogo tentang
kepemimpinan. Buku ini menarik disimak bukan hanya karena isinya yang
bagus, tetapi lebih karena ditulis oleh seorang tokoh yang dikenal
berhasil dalam memimpin. Saya sendiri merasa beruntung dapat berkenalan
dan berkesempatan menyunting tulisan-tulisan Prof. Imam menjadi sebuah
buku. Beberapa sudah terbit.
Prof. Imam merupakan cendekiawan yang
berjasa besar dalam pengembangan dunia pendidikan dan pemikiran Islam.
Beliau dikenal sebagai sosok inspiratif dan kaya ide.
Pemikiran-pemikiran beliau wajib pelajari untuk memajukan kehidupan
berbangsa dan bernegara. Tidak susah. Karena setiap hari, beliau aktif
mengunggah tulisannya di internet. Tulisan Prof. Imam umumnya sederhana,
tetapi mengena. Orang mengagumi pemikiran beliau karena cerdas dan
melintasi. Meski kadang sekadar pengalaman keseharian, tetapi penuh
hikmah.
Di bidang kepemimpinan, tokoh kelahiran Trenggalek ini
memang bukan sosok karbitan. Karier Prof. Imam dalam memimpin dimulai
sejak menjadi Kepala MINU (Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama) di desa
kelahirannya. Setelah itu, beliau bekerja di Universitas Muhammadiyah
Malang (UMM). Mula-mula menjabat Kepala Perpustakaan, lalu Wakil Dekan,
Dekan FISIP, Wakil Rektor I, dan Wakil Direktur Pascasarjana. Semuanya
jika dijumlah, tidak kurang dari 20 tahun.
Ketika Prof. Imam
menjabat Wakil Rektor I mendampingi Prof A. Malik Fadjar (1983-1996),
jumlah mahasiswa UMM baru 500-an. Namun, di akhir masa jabatan beliau,
jumlah mahasiswa meningkat pesat menjadi 23.000 orang. Tidak heran,
Prof. A. Syafii Maarif memuji Prof. Imam sebagai seorang pemimpin yang
memiliki daya imajinasi kuat dan mimpi besar. “Lewat sentuhan tangan
dingin dan kerja keras Imam Suprayogo dan unsur pimpinan UMM, kampus
yang dulu kecil menjadi maju dan berkelas,” tutur Buya Syafii Maarif.
Uniknya,
kendati menjabat Wakil Rektor I, dan mampu mendongkrak UMM menjadi
kampus papan atas, kondisi perekonomian Prof. Imam tidak mengalami
peningkatan. Beliau tetap sosok yang sederhana, gigih, santun dan
dermawan. Kepedulian beliau terhadap sesama masih terpatri dalam hati
dan derap langkah. Diceritakan, setiap waktu sahur di bulan Ramadhan,
Wakil Rektor I ini biasa keliling kampus. Ada apa gerangan? Rupanya
beliau biasa menengok pos satpam, karyawan, termasuk petugas kebersihan.
Kepada para bawahan itu, Prof. Imam bertanya, “Adakah yang belum
sahur?” Beliau biasanya lalu menyodorkan nasi bungkus. Sesekali uang
saku untuk sahur.
Cerita lain, apabila Prof. Imam pulang dari
suatu acara, lalu mendapat makanan bungkus, beliau tidak memberikan
makanan itu kepada istri dan anak-anak di rumah. Beliau lebih senang
membawa makanan itu ke kampus UMM dan memberikannya kepada karyawan
kampus yang belum makan. Prof. Imam membuktikan diri sebagai intelektual
yang membumi. Ketika hendak berbuat welas asih, beliau tidak pernah
memandang pangkat. Itulah pemimpin yang benar-benar berjiwa kesatria
sejati. Selesai mengabdi di UMM pertengahan 1997, Prof. Imam mendapat
tugas sebagai Wakil Dekan I Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, berlanjut Ketua STAIN, kemudian Rektor UIN Maliki Malang dan baru berakhir pada Selasa, 30 April 2013.
Yang
beliau rasakan, di setiap lembaga yang beliau ikut memimpin, pasti
keadaannya dalam fase awal dan sedang tumbuh. Ketika menjadi kepala
MINU, lembaga itu masih dalam taraf perintisan. Demikian pula, ketika
turut babat alas di UMM, dan IAIN, sebelum kemudian berubah
menjadi UIN Maliki Malang pada 2004.Memimpin lembaga pendidikan yang
sedang dalam fase perintisan dan pertumbuhan memang berat. Semua serba
terbatas dan kekurangan. Tetapi dengan keterbatasan itu, Prof. Imam
justru tertantang untuk berusaha mencari peluang-peluang dan
alternatif-alternatif untuk memajukan lembaga.
Hadis yang sering
beliau kutip berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberi
manfaat bagi sesama.” Untuk memberi manfaat, maka seseorang harus
memiliki keunggulan dan keunikan. Dengan demikian, sejak memimpin kampus
UIN Maliki Malang, Prof. Imam selalu membuat dan menerapkan
konsep-konsep pendidikan yang belum banyak dilakukan oleh lembaga lain.
Beliau, misalnya, mencoba menggabungkan tradisi perguruan tinggi dengan
tradisi pesantren. Hal berbeda yang bersifat kreatif dan inovatif
seperti ini menjadikan institusi yang sedang beliau pimpin bersifat unik
dari lainnya. Selain itu, Prof. Imam mengembangkan bangunan keilmuan
baru di UIN Maliki Malang, yaitu menggabungkan ilmu agama dengan ilmu
umum dalam satu kesatuan.
Sudah pasti, Prof. Imam adalah sosok
yang memiliki semangat tinggi dan tidak gampang menyerah. Ketika kampus
masih bernama STAIN Malang di awal tahun 1998, dalam upaya membangun
semangat kerja, beliau menempuh pendekatan kebersamaan. Menurut
pengamatan beliau, semangat kerja yang rendah lebih banyak disebabkan
adanya perbedaan kesejahteraan yang diterima oleh masing-masing orang.
Beliau menyadari bahwa seluruh pegawai di kampus dengan status, tugas,
dan golongan yang berbeda tidak mungkin menerima imbalan yang sama.
Tetapi di tengah perbedaan yang mencolok, beliau membuat kebijakan yang
menjadikan kebersamaan.
Kesamaan dan kebersamaan yang beliau pilih
waktu itu berupa pemberian baju seragam dan juga THR menjelang Hari
Raya. Kalau biasanya baju seragam antara pejabat, dosen, dan karyawan
selalu dibedakan, beliau mengambil kebijakan menyamakannya. Entah itu
pimpinan, dosen, karyawan, satpam, bahkan petugas kebersihan. Semua
diberikan baju jas yang sama. Inilah yang beliau maksud sebagai kesamaan
dan kebersamaan. Demikian pula tatkala menjelang Hari Raya. Manakala
rektor mendapat THR Rp 100 ribu, maka satpam dan tukang sapu pun juga
mendapat rupiah yang sama. Strategi ini ternyata berhasil menumbuhkan
semangat kerja di kalangan pegawai tingkat bawah, karena mereka merasa
diperlakukan secara sama.
Prof. Imam sering mengatakan, setiap
orang memiliki keakuan yang menuntut orang lain mengakui. Tatkala
harapan itu gagal diperoleh, biasanya orang akan tersinggung, kecewa,
dan bahkan marah. Tidak ada orang yang mau dianggap keberadaannya tidak
ada. Banyak orang merasa sedih, kecewa, dan bahkan marah hanya karena
merasa dirinya dianggap tidak penting, tidak diorangkan, apalagi
dianggap tidak ada. Orang akan bekerja sungguh-sungguh dan ikhlas
manakala keberadaan atau eksistensinya diakui. Tatkala pengakuan
terhadap diri seseorang diberikan, maka yang bersangkutan akan senang
dan bangga. Kesenangan dan kebanggaan itulah yang menyebabkan mereka mau
dan sanggup bekerja maksimal.
Demikian itulah model kepemimpinan
Prof. Imam. Sekali lagi, beliau telah menjadi pemimpin yang melayani.
Lebih lengkap, silakan membaca buku ini. Semoga kita semua tergugah
untuk menjadi pemimpin yang inspiratif.
Identitas Buku
Judul Buku: Memimpin Sepenuh Hati
Penulis: Imam Suprayogo
Penerbit: Genius Media, Malang
Cetakan: Pertama, 2013
Tebal: xviii + 274 halaman
Peresensi: M. Husnaini
